Sabtu, 04 Juli 2020

Untuk Sesapa Kata "Kamu"

Magelang, 03 Juli 2020


Kamu tahu bagaimana rasanya diam-diam mencintai seorang yang pada akhirnya pun menjatuhkan hatinya padamu? Bahagia? Haru? Lalu bagaimana jika kemudian kamu pun diam-diam dipaksa melepas genggam yang telah erat kau perjuangkan dalam persujudan yang begitu mesra menggetarkan?

Bagaimanapun endingnya, aku berusaha untuk tak menyalahkan siapa pun atas takdir ini. Takdir yang mempertemukanku pada seorang yang ku buat jatuh hatinya, tapi kemudian ku buat patah juga pada akhirnya.

Bagaimanapun aku lah yang teramat antagonis dalam cerita ini, begitu kau juga aku menganggapnya. Namun tahukan kau? Bahwa aku pun menjadi antagonis terhadap diriku sendiri. Jika pun kau amat membenciku, bahkan aku lebih membenci diriku sendiri. Aku yang telah memorak-porandakan semuanya, hatimu, hatiku, kisahmu juga kisahku. Kita sebatas lalu yang tak melulu. Kita teramat fana pada sebuah kata jatuh cinta.

                                              ***
Jauh sebelum hadirmu, aku bukanlah orang yang menganggap diriku kejam hanya karena keegoisanku selalu menduduki peringkat satu. Aku tak pernah membenciku sedemikian itu. Biarpun semua teman menjauhiku, membenciku lantaran keegoisanku untuk berprestasi, aku tak pernah sedemikian takut, sebab aku yakin mereka kembali saat membutuhkanku.

Jauh sebelum mengenalmu, aku masih teramat lugu perihal kagum dan mengagumi, jatuh cinta dan dicintai, hingga patah dan mematahkan.Jauh sebelum mengenalmu, aku masih begitu asing dengan puisi-puisi sendu, sajak-sajak patah, atau syair-syair romantis yang kemudian aku teramat berbunga-bunga ketika membacanya.

Tapi, jauh sebelum mengenalmu aku pun seorang yang teramat asing dengan hafalan-hafalan ayat suci, doa-doa, hingga persujudan di sepertiga malam.

Lalu, seiring berjalannya waktu juga kamu yang kemudian hadir dan masuk ke dalam semestaku, mau tidak mau semua harus berubah. Diksi-diksi yang semula ku rangkai begitu sederhana tanpa makna, berubah menjadi sajak-sajak cinta, puisi-puisi romantis, hingga syair-syair sendu yang menyayat hati.  Tak hanya itu, aku juga kamu, bahkan ending cerita kita pun dituntut untuk ikut berubah. Kita tak mungkin diam, sedangkan waktu terus merangkak maju ke depan.

Lalu, setelah pelbagai kisah yang kita lalui dengan payah dan kemudian kita paksa berhenti untuk menjadikannya akhir, jemariku pun aku paksa bergerak untuk menuliskanmu. Menuliskan apa-apa yang ternyata membuatku kembali sesak. 

Tapi, aku pikir aku memang harus menuliskannya. Meski kita telah sampai pada titik akhir dimana kita telah kembali menjadi aku dan kamu yang asing, namun aku merasa kisah kita belum tuntas sebab aku yang terlalu payah untuk menjelaskannya, aku pun yakin hatimu akan terlalu berontak untuk menerimanya. 

Tulisan ini barangkali tak kau baca saat ini. Aku pun tak mengharapmu membacanya sekarang, sebab aku hanya ingin tuntas dulu dalam menuliskanmu. Aku juga tak tahu apakah ini akan benar-benar sampai di beranda ponselmu atau hanya akan tercecer di bentangan semestaku yang rancu. Tapi, semogaku tetap kamu membacaya meski tak sengaja. 

Jadi, sebagai pembuka dan prakata, untukmu sebagai tokoh utama, izinkan aku menyampaikannya meski tak secara langsung kau dengar di telingamu; Terima kasih untuk kesempatan mengenalmu. Tulisan ini mungkin akan membuka kembali luka yang kini mulai tertutup sebab seorang yang baru di hidupmu, aku minta maaf, tapi aku akan tetap menuliskannya. Tulisan ini, anggap saja aku sedang bercerita di hadapanmu tentang segala luka yang mungkin tak termaafkan. Aku tahu aku teramat payah sebab begitu mudah menyerah, aku minta maaf, tapi aku telah melakukannya. Terima kasih dan maaf telah mampir di rumah candamu kemudian pergi seenaknya tanpa ucapan terima kasih dan selamat tinggal. Tapi, kini aku mengucapkannya meski hanya lewat tulisan. Lalu, izinkan aku untuk tuntas dalam menuliskanmu. Tak usah kau pedulikan lagi lukaku! Meski aku yakin kamu sudah terlalu bodoamat untuk itu. Kini, mulailah fokus untuk mengutuhkan patahmu, dengan dia (seorang yang telah berhasil menjadi obat itu) meski kau pu pernah mengatakan bahwa aku lah obatmu, tapi maaf ternyata aku lah luka itu. Maaf dan terima kasih untuk semuanya.

Jumat, 03 Juli 2020

Sepuing Kata “Aku”

Magelang, 03 Juli 2020


Sebenarnya aku nggak mau kenalan, takut kamu jadi sayang :v kan tak kenal maka tak sayang, kalau sudah kenal jadinya? Ehmm :v ada juga sih yang bilang, tak kenal maka ta’aruf tapi nanti dulu lah ya, itu terlalu serius wkwk. Oke, cukup.

Perempuan pengagum senja itu aku, mereka memanggilku dengan sebutan si Senja. Tapi, dia memanggilku “Bintangku”. Dulu, aku teramat lugu dan tak memusingkan maksud di balik panggilan itu. Aku tidak tahu-menahu, hanya saja suka mendengar dia memanggilku demikian. Sudah, cukup.

Terlepas dari semua panggilan itu, jangan bayangkan aku seorang perempuan dengan tinggi semampai nan ramping, berkulit putih, juga rambut panjang yang tegerai! Haha tidak, aku tidaklah sedemikian itu. Aku hanyalah seorang biasa yang mendeklarasikan diri sebagai pengagum senja. Iya, aku mengagumi senja dengan segala pekat dan kilau kemerahannya.

Aku bahkan tak peduli, ketika orang-orang mengatakan bahwa senja itu hanya sementara. Kalian pikir kita ini abadi? Kita ini fana hei, jangan merasa dan menginginkan yang abadi di dunia ini! Bagiku, senja adalah candu dan penenang yang bisa aku nikmati tanpa perlu was-was akan diciduk oleh polisi.

Aku juga seorang penikmat kopi dengan segala pahit dan manisnya, panas dan dinginnya, hingga pekat dan segala rupa variannya. Aku lupa mengapa aku menjadi teramat menyukainya, sebab awalnya aku hanya iseng menyeruput kopi yang telah ibu buat untuk bapak di pagi hari kala aku masih kecil. Tapi dari situ aku percaya, bahwa anak kecil memiliki memori yang kuat untuk mengingat setiap rasa dan kejadian apa pun yang dialaminya. 

Meski begitu, bukan berarti dengan menjadi dewasa kita menjadi teramat sulit untuk mengingat. Tidak hei! kita ini pengingat luka yang baik bukan? :v meski berpuluh purnama telah berlalu, luka itu masih utuh, iya kan? Meski kau bilang sudah melupakannya, ternyata luka tak sedemikian mudahnya untuk pergi. Itulah pentingnya belajar berdamai dengan perasaan (ehm sok bijak).

Lagi, aku adalah seorang perangkai diksi, suka nulis meskipun belum diakui sebagai penulis, makanya aku nulis ini untuk mendapatkan pengakuan, hehe canda. Iya, aku suka mengarang dan dengan rangkaian diksiku yang absurd itu aku bisa membuat orang-orang yakin bahwa apa yang aku tulis adalah nyata, padahal? Nyata lah hehe nggak ding, ngarang lah. Hayolo sampai di sini keyakinanmu untuk membaca tulisanku masih kokoh atau mulai goyah? :v 

Terlepas dari itu semua dan apa yang orang lain katakan, aku adalah diriku sendiri. Seorang yang sejatinya memiliki begitu banyak celah. Meski begitu, aku ingin aku yang utuh. Bukan untuk utuh di matamu, sebab aku tahu aku tak akan pernah utuh dalam penilaian siapa pun. Aku hanya ingin aku yang utuh dalam takaranku sendiri, versiku sendiri. Meskipun aku juga tahu bahwa aku bukanlah seorang perempuan yang teramat tangguh, dan selalu utuh. Jadi bagaimana? Masih mau mengenalku lebih lanjut atau cukup ampai di sini saja?

Kemudian, mengenai duniaku yang tak pernah dalam kondisi baik-baik saja. Aku yakin duniamu pun begitu, jadi jangan pernah merasa sendirian terluka. Aku dengan segala hiruk-pikuk luka dan melukai, dan dia dengan segala luka dan dilukai. Sampai di sini, maaf telah mematahkan persepsimu bahwa aku seorang yang begitu baik versi pikiranmu.
 
Nyatanya aku adalah yang paling antagonis atas dia, mereka dan diriku sendiri, mungkin juga dirimu. Tapi, satu hal yang aku yakini, bahwa selalu ada hikmah di setiap jengkal pertemuan antara luka dengan kecewa, atau tawa dengan air mata. Selamat menyelami aku dalam rangkaian diksiku, semoga tak ada sesal sebab telah mengenalku.

Untuk Lelaki yang Terlahir di tanggal 27 November

Selamat pagi, selamat siang, selamat sore, selamat malam, dan selamat menikmati hari-harimu, Mas. Aku tidak tahu kapan kamu membacanya, maka...