Selasa, 26 November 2024

Untuk Lelaki yang Terlahir di tanggal 27 November


Selamat pagi, selamat siang, selamat sore, selamat malam, dan selamat menikmati hari-harimu, Mas. Aku tidak tahu kapan kamu membacanya, maka aku telah menjamak “selamat” karena di balik kata “selamat” selalu ada doa yang tersemat.

Bagaimana harimu? Cukup berat ya? It’s okay, let just take a deep breath!

Entah ini tulisan tentangmu yang ke berapa, namun semoga bukan tulisan terakhir yang tercipta untuk kau baca. Tulisan biasa dan mungkin tak bermakna apa pun selain ungkapan perasaan yang mungkin kamu sudah bosan merapalnya. Rasanya tak cukup hanya sebatas menuliskanmu pada kepingan−kepingan puisi rindu, sajak sajak sendu yang tak berharap apa pun selain segera menuai sebuah temu. Tentangmu yang bahkan aku tak tahu bagaimana aku bisa menggambarkanmu melalui tatanan frasaku yang rancu. Rasanya, aku mendadak kehilangan frasa setiap kali aku ingin mengabadikanmu dalam tulisan−tulisan sederhana yang bahkan entah akan kau baca atau hanya akan menjadi sampah di beranda ponselmu dan tercecer dalam bentangan semestaku yang rancu.

Mungkin sudah ke sekian kalinya aku bilang bahwa dalam mencintaimu, aku ini pengecut. Rasa−rasanya aku selalu gagal membuatmu merasa dicintai olehku. Mungkin bahasa cinta kita yang berbeda. Atau mungkin caraku yang tak tepat dalam mencintaimu, dan aku yang selalu gagal dalam memahamimu. Hingga mungkin saat ini kita sampai pada titik dimana masing–masing kita merasa lelah untuk terus merangkak maju.

Sering aku bertanya pada diriku, apa yang membuat kita bertahan sampai sejauh ini? Apakah karena kita memiliki mimpi yang sama untuk menua bersama? Atau itu hanya sebatas angan sepihakku saja? Atau kita yang sebenarnya terlalu gengsi untuk mengakui bahwa kita sama−sama butuh untuk terus tumbuh baik dan utuh? Atau kita yang terlalu naif untuk mengakui bahwa kita yang bermula dari saling kesepian saja? Entahlah aku pun tak tahu. Sebab berulangkali aku mencari tahu, yang tumbuh dalam diriku justru keraguan. Ragu bahwa besar rasaku tak bertepuk sebelah tangan, meskipun aku sadar bahwa sebaik–baik perasaan adalah yang tak mengharapkan sebuah balasan. Kamu tahu bahwa salah satu kelemahanku adalah terletak pada ketikdakstabilan perasaanku, juga segala berisik yang seringkali berkecamuk di kepalaku, meskipun seringkali mengeluh padamu, tapi segala prasangka buruk tanpa kau minta pun selalu ku tepis. Barangkali di sana kamu sedang terseok−seok mengusahakan utuhnya kebersamaan. Sedangkan aku di sini hanya selalu berperang hebat sendirian perihal segala ketakutan dan perasaan yang entah berbalas atau berdiri tegak sendirian. 

Sayang, sudah sejauh ini dan aku masih tumbuh menjadi sosok yang sulit untuk mengungkapkan. Barangkali kita memang sama−sama tumbuh dalam ketidaksempurnaan. Aku yang selalu mencintaimu dengan caraku, tapi aku pula yang selalu gagal dalam memahamimu. Kau yang memahamiku dengan segala caramu, dan aku yang masih sering gagal memahami caramu mencintaiku.

Maaf, karena mungkin dua tahun belakangan ini bahagiamu mulai terkikis karena kehadiranku. Senyum dan tawamu yang tak lagi ringan kau lepaskan. Bebanmu kian berat mungkin salah satunya karena aku yang egois memaksa untuk terus memasuki kehidupanmu. Tapi sungguh, aku pun tak tahu mengapa bisa aku jatuh sedalam ini padamu. Berulang kali aku meminta Tuhan untuk terus menjaga perasaanku padamu, membantuku mengendalikan segala risau dan rasa sayang yang menggebu. Agar aku tak jatuh dalam rasa kecewa yang kemudian membuatku selalu ingin mengaturmu hingga kamu merasa terusik akan kehadiranku, agar segala hal yang aku takutkan tentangmu, tentang kita juga segala sesak di dada segera sirna. Mungkin dengan kata lain, aku sudah sampai di titik dimana aku sadar bahwa sekeras apa pun aku mengusahakanmu, aku tak akan mampu menggantikan segala rasamu yang sudah habis dan tertinggal pada seorang sebelum aku. Maka dari itu, untuk saat ini (dan mungkin ke depannya), tak akan ada lagi paksaaan dariku atas segala perasaanmu.

Maaf yaa Mas, di hidupmu aku terlalu berisik. Seharusnya aku bisa menjadi tempatmu pulang dan berkeluh kesah, seharusnya aku bisa menjadi penenang atas segala risau dan kecamuk di kepalamu, seharusnya aku adalah perempuan yang selalu bisa memberikan dukungan terbaik untukmu. Maaf karena bersamaku, segala lukamu masih kau genggam sendirian, seharusnya kita dapat berjalan saling menggenggam dan menguatkan. Barangkali di antara banyaknya perempuan yang kau temui, aku lah yang terburuk hingga tak kau temukan satu hal pun yang dapat kamu syukuri atas aku. Maaf yaa Mas, belum menjadi perempuan baik yang kamu temui dalam perjalananmu.

Beribu−ribu maaf dan terima kasih mungkin tak akan pernah cukup untuk mengganti semua yang hilang darimu selama bertemu denganku, bahagiamu, senyummu, tawamu, cerita randommu, kebebasanmu, sifat baikmu dan segala hal baik yang mungkin sebelum bersamaku selalu lekat dalam dirimu. Tapi sungguh, tumbuh bersama dalam waktu yang lama memang butuh hati yang lapang untuk saling kecewa dan memaafkan, bukan? Dan semoga, tak ada sesal di hatimu atas pertemuanmu denganku.

Selamat memasuki seperempat abad, sayangku. Setelah ini, dengan atau tanpa aku, tumbuhlah utuh dan jauh lebih baik. Tumbuhlah bahagia, lebih bahagia, dan terus bahagia. Jika semangatmu patah dan memudar, jangan pernah merasa sendirian! karena aku adalah salah satu yang akan selalu excited merayakan, sekecil apa pun pencapaianmu. Dalam 9.132 hari kamu hidup di dunia ini, di dalamnya mungkin ada ratusan hari yang telah kita lewati bersama sejak pertama kali kita saling bertatap muka. Dan selama itu pula aku tak pernah kehilangan rasa syukur karena dipertemukan denganmu. Maka dari itu, semoga kamu pun tak pernah kehilangan rasa syukur atas dirimu, atas hidupmu, atas segala yang telah kamu lalui selama ini dengan penuh keberanian. Teruslah berjalan! Semoga segala hal baik dan kebaikan selalu terlimpah dalam hidupmu, dalam setiap langkah perjuanganmu. Dalam setiap langkahmu, teriring selalu doa−doa baik yang selalu ku langitkan dalam persujudan mesra yang menggetarkan. Semoga esok selepas ini, dengan atau tanpa aku, kebaikan, kesehatan, kebahagiaan, kekuatan dari Tuhan, ketenangan hati dan pikiran selalu menyertai langkah juangmu. Semoga Tuhan selalu melindungi senyummu dan hatimu, aku adalah orang yang selalu senang melihatmu baik−baik saja.

Tumbuhlah sebaik mungkin, sayang. Terima kasih telah hidup. Terima kasih atas kesempatan mengenalmu. Aku melangitkanmu selalu.

 

🤍Ana Noviana

 

  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Untuk Lelaki yang Terlahir di tanggal 27 November

Selamat pagi, selamat siang, selamat sore, selamat malam, dan selamat menikmati hari-harimu, Mas. Aku tidak tahu kapan kamu membacanya, maka...