Magelang, 03 Juli 2020
Sebenarnya aku nggak mau kenalan, takut kamu jadi
sayang :v kan tak kenal maka tak sayang, kalau sudah kenal jadinya? Ehmm :v ada
juga sih yang bilang, tak kenal maka ta’aruf
tapi nanti dulu lah ya, itu terlalu serius wkwk. Oke, cukup.
Perempuan pengagum senja itu aku, mereka memanggilku
dengan sebutan si Senja. Tapi, dia memanggilku “Bintangku”. Dulu, aku teramat
lugu dan tak memusingkan maksud di balik panggilan itu. Aku tidak tahu-menahu,
hanya saja suka mendengar dia memanggilku demikian. Sudah, cukup.
Terlepas dari semua panggilan itu, jangan bayangkan aku seorang
perempuan dengan tinggi semampai nan ramping, berkulit putih, juga rambut
panjang yang tegerai! Haha tidak, aku tidaklah sedemikian itu. Aku hanyalah
seorang biasa yang mendeklarasikan diri sebagai pengagum senja. Iya, aku
mengagumi senja dengan segala pekat dan kilau kemerahannya.
Aku bahkan tak peduli, ketika orang-orang mengatakan bahwa senja itu hanya sementara. Kalian pikir kita ini abadi? Kita ini fana hei, jangan merasa dan menginginkan yang abadi di dunia ini! Bagiku, senja adalah candu dan penenang yang bisa aku nikmati tanpa perlu was-was akan diciduk oleh polisi.
Aku bahkan tak peduli, ketika orang-orang mengatakan bahwa senja itu hanya sementara. Kalian pikir kita ini abadi? Kita ini fana hei, jangan merasa dan menginginkan yang abadi di dunia ini! Bagiku, senja adalah candu dan penenang yang bisa aku nikmati tanpa perlu was-was akan diciduk oleh polisi.
Aku juga seorang penikmat kopi dengan segala pahit
dan manisnya, panas dan dinginnya, hingga pekat dan segala rupa variannya. Aku
lupa mengapa aku menjadi teramat menyukainya, sebab awalnya aku hanya iseng
menyeruput kopi yang telah ibu buat untuk bapak di pagi hari kala aku masih
kecil. Tapi dari situ aku percaya, bahwa anak kecil memiliki memori yang kuat
untuk mengingat setiap rasa dan kejadian apa pun yang dialaminya.
Meski begitu, bukan berarti dengan menjadi dewasa kita menjadi teramat sulit untuk mengingat. Tidak hei! kita ini pengingat luka yang baik bukan? :v meski berpuluh purnama telah berlalu, luka itu masih utuh, iya kan? Meski kau bilang sudah melupakannya, ternyata luka tak sedemikian mudahnya untuk pergi. Itulah pentingnya belajar berdamai dengan perasaan (ehm sok bijak).
Meski begitu, bukan berarti dengan menjadi dewasa kita menjadi teramat sulit untuk mengingat. Tidak hei! kita ini pengingat luka yang baik bukan? :v meski berpuluh purnama telah berlalu, luka itu masih utuh, iya kan? Meski kau bilang sudah melupakannya, ternyata luka tak sedemikian mudahnya untuk pergi. Itulah pentingnya belajar berdamai dengan perasaan (ehm sok bijak).
Lagi, aku adalah seorang perangkai diksi, suka nulis
meskipun belum diakui sebagai penulis, makanya aku nulis ini untuk mendapatkan
pengakuan, hehe canda. Iya, aku suka mengarang dan dengan rangkaian diksiku
yang absurd itu aku bisa membuat orang-orang yakin bahwa apa yang aku tulis
adalah nyata, padahal? Nyata lah hehe nggak ding, ngarang lah. Hayolo sampai di
sini keyakinanmu untuk membaca tulisanku masih kokoh atau mulai goyah? :v
Terlepas dari itu semua dan apa yang orang lain
katakan, aku adalah diriku sendiri. Seorang yang sejatinya memiliki begitu
banyak celah. Meski begitu, aku ingin aku yang utuh. Bukan untuk utuh di
matamu, sebab aku tahu aku tak akan pernah utuh dalam penilaian siapa pun. Aku
hanya ingin aku yang utuh dalam takaranku sendiri, versiku sendiri. Meskipun
aku juga tahu bahwa aku bukanlah seorang perempuan yang teramat tangguh, dan
selalu utuh. Jadi bagaimana? Masih mau mengenalku lebih lanjut atau cukup ampai
di sini saja?
Kemudian, mengenai duniaku yang tak pernah dalam
kondisi baik-baik saja. Aku yakin duniamu pun begitu, jadi jangan pernah merasa
sendirian terluka. Aku dengan segala hiruk-pikuk luka dan melukai, dan dia dengan
segala luka dan dilukai. Sampai di sini, maaf telah mematahkan persepsimu bahwa
aku seorang yang begitu baik versi pikiranmu.
Nyatanya aku adalah yang paling antagonis atas dia, mereka dan diriku sendiri, mungkin juga dirimu. Tapi, satu hal yang aku yakini, bahwa selalu ada hikmah di setiap jengkal pertemuan antara luka dengan kecewa, atau tawa dengan air mata. Selamat menyelami aku dalam rangkaian diksiku, semoga tak ada sesal sebab telah mengenalku.
Jangan berhenti! Aku mengagumimu dengan segala bisamu.
BalasHapus